“Lah wong emang lagi bosen, mau bilang apa?”Entah kenapa, lately gw merasa nggak ada gairah lagi writing about some gayness part of me. Efek dari workload yang mulai menanjak lagi? Maybe… Kerjaan gw nuntut everything as rational as possible or we can never get a project, so the emotional part tersisihkan (if I ever had that emotional part). Atau mungkin karena spark itu udah nggak ada? Yang awalnya di-ignite sama blog-nya Fa, and later on I’m connected to other gay bloggers as well…
Are you routinely checking-out other bloggers page as I do? You will see what I meant. Awalnya si Ratu itu yang mulai “ngeluh” dan beresolusi untuk punya pacar lagi di tahun ini. And suddenly every gay's single nulis hal yang senada… SGG, There Will Be Time, Pacaran Serius… Yang udah gak single lagi nulis Busway Goyang (duhh)… Cuma Nei yang tampil sangat elegan dengan A Pathetic Hero. Ohhh, that’s really gay!!! :) (dan tentu saja blogger lain yang menulis tentang keseharian dan ruang profesionalnya. Not literally writing about “gay”, but a look to the world from a gay eyes that makes the whole story is very gay…)
Jangan salah sangka, gw support dengan mutual-monogamous-partnership. But how come this and the sex part becoming the major theme of Qmunnity? Atau, is that the way we’re connected? Any reasons why that’s so contagious?
Rasanya, nulis bukan untuk dipaksa lohh. It should flows from the heart… Cause the readers will feel that stream, gemuruh itu, hempasan kata – kata, the spirit of your mind speaks when you write it down…
Atau? Toh ini kan cuma blog. A journal (I hate to call it diary, sounds girly). Gw nggak pasang iklan disini, so no need for a huge traffic… But nggak mau juga kalo nggak ada yang baca, gimanaaa gitu rasanya :). Sooo, I write what I want. Situ benci? Ya sud...
(Hmmmmhhh...)
In the meantime gw mau nulis resensi film aja ahh, yang bertema gay tentu saja. Dan Brokeback Mountain tidak termasuk satu diantaranya. Do you agree? ;)


























