Love, Life and Remedies

Sometimes, the most desirable relationship is the one you can't have...

Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us
February 7, 2010

Vector Drawing vs. Digital Painting

Posted by BoewatChat

"My point is that please do spend some times to think on what kind of work-flow we're most get used to..."
Bermain definisi sangat melelahkan, di kamus besar satu kata saja bisa punya beragam makna. However, it is still worth to be noted in advance so that everybody can follow what I'm going to talk about :) I always feel that way :p

OK.. Disini, vector tidak untuk dikontraskan dengan pixel, karena konteks-nya cerita ini adalah membedakan workflow antara sesama "painter". Jadi yang dimaksud vector adalah sketches atau strokes, baik itu hand-drawn maupun digital. Sementara painting adalah goresan brushes. Hasil akhir dari dua approach ini bisa jadi sangat identical, tapi secara konsep proses pembuatan sangat berbeda.

Vector drawing software (notably Adobe Illustrator dan Corel Draw) dibuat berdasarkan asumsi bahwa sebuah "artwork" akan dimulai dengan goresan/strokes. Dari goresan, kemudian di-isi dengan fill color dan gradasi, sampai akhirnya menjadi sebuah karya. In most cases, strokes outline yang sudah susah payah dibentuk itu, jarang sekali ditampilkan.. Well, karena memang tidak relevant dengan hasil akhirnya :) Dengan asumsi workflow seperti ini, maka software tersebut banyak memberikan kapabilitas stroke/line generation (rectangular shape, ellips, etc.) and editing (combine, group, cusp, etc.).. Workflow ini sangat mudah dimengerti oleh non-talented-artist, just like myself ;)

Painting software (seperti Corel Painter, Autodesk Sketchbook dan baru - baru ini Adobe Photoshop), mengambil approach yang berbeda. Sebuah artwork langsung dimulai dengan tumpahan warna, melalui sapuan brushes. Sehingga software ini banyak dilengkapi dengan default brush yang beraneka ragam dan sangat mudah dikustomisasi. Pendekatan ini akan terasa natural buat mereka yang pada dasarnya adalah painter dengan traditional media (paper/canvas, oils, watercolor, conte, and even a pencil - feel free to name others..). Tapi, sungguh sangat sulit buat yang tidak mempunyai talenta untuk menggambar :)

Seiring dengan kemajuan masing - masing software, batasan vector drawing vs. digital painting juga makin blurred. Semua software diatas mempunyai kemampuan keduanya. Illustrator misal-nya, dia membedakan istilah brush, yaitu more advance version of strokes (yang bisa divariasikan properties-nya, seperti: thickness, texture, opacity, etc.) dan blobs (the real "painting brush" yang memang sudah memiliki sifat original brush asli). Corel Painter juga mempunyai Pen tool (harap dibedakan dengan brush "pencil"), yang berguna untuk membuat strokes yang masuk definisi vector drawing. Strokes yang dihasilkan oleh brush pencil lebih mirip dengan konsep blobs-nya Illustrator. Tapi tentu saja, the user experience feeling in using the softwares, tetap akan terasa berbeda karena konsep development masing - masing software tersebut berbeda. Saya lebih mudah mengikuti flow-nya Illustrator dibandingkan dengan Painter.. In this case I must admit that my mathematics score is higher compare to my painting score :p

Photoshop agak berbeda. Walaupun dia lebih tepat dimasukkan ke Painting software, tapi pendekatannya adalah task based, instead of interactive/methodic based (seperti yang digunakan oleh ke-empat contoh software diatas). Task based artinya, Photoshop di-design untuk mempunyai set automation tertentu untuk menyelesaikan sebuah tugas (tentu dengan kemampuan parametric adjustment). Misalnya untuk membuat drop shadow, Photoshop menyediakan efek layer drop-shadow. (Tentu saja Photoshop juga bisa dipakai secara "interactive", copy the object, move behind, change to gray-scale, change opacity, etc.). Karena pendekatan yang task based inilah, Photoshop lebih mudah digunakan untuk digital painting dibandingkan dua software yang lainnya.. Again, terutama oleh not-talented-user-artist-wannabe.. You know who.. ;)

Sayangnya, the real digital painting art tidak dihasilkan oleh task based function, tapi harus interactive. Pake Photoshop, dengan mudah kita bisa convert sebuah photo menjadi looks like hand-drawn (ada banyak plug-ins untuk ini). Tapi, a real hand drawn sketch memerlukan tidak cuma sekali conversion, tapi merupakan gabungan beberapa teknik sekaligus (increase contrast, trim certain part of the image, convert to B&W, layer style, eraser, etc.). Dan itu belum semuanya.. Karena ternyata esensi digital painting adalah bukan meng-copy kemudian merubah bentuk suatu object, tapi mengambil impresi dari objek tersebut.

So, I have to revise my previous target, because it seems that this is the reason of my inability to produce "good" result. So, my very first goal is to learn:
- Color and lighting
- To understand the object and express it

Lagi download video tentang painting and colors for children :p Semoga Tuhan memberkati :) Bismillaahirrahmaanirrahim..

Cum laude from a well known university is not guarantee that we can do everything. Talent is needed for everything and so far I've been lucky that I always pick my best. Will find out for this one :)

January 31, 2010

Digital Painting in Photoshop

Posted by BoewatChat

"The artistry is not coming from our gayness, that's talent..."
Akhirnya setelah sekian lama gak pernah nengokin lapak yang yang satu ini, finally I'm back :). Mid to end 2009 was really the busiest period of my carier.. Selain akhirnya bisa ber-Haji (Alhamdulillah), sekalian mampir sih sebenarnya - mumpung disana, juga bisa nyelesaikan project homework yang udah berbulan - bulan menggantung.. Not really a happy ending, but at least there's a conclusion.

Back to the topic sebelum berubah jadi curcol...

Niat nyeriusin belajar Photoshop udah lama sebenarnya, sejak ada rencana bikin blog rame - rame yang akhirnya gak ketahuan lagi kelanjutannya gimana itu ;). So, I found there are 3 Photoshop genre:
- Photo editing
Buat para photographer dan purist yang nggak ingin komposisi hasil jepretannya berubah drastis.. "Percuma invest di kamera mahal", kata salah satu temen. Mereka ini pengguna Photoshop yang kebanyakan menggunakan fitur photo tuning (levels, curve, etc.) dan kadang - kadang fitur patch-up.. "Buat ngilangin jerawat di muka dan mutihin gigi"..
- Image generation
Mereka ini biasanya yang hobi combine gambar - gambar, termasuk di level terendah yang hobi nggabungin badan si A dengan wajah si B. Di level yang tertinggi tentunya para Ad-designer yang perlu untuk me-montase several pictures untuk jadi kesatuan iklan yang "bunyi".. Mereka ini ahli menggunakan selection tool dan selection method yang lainnya tentu saja..
- Digital painting
Ini dia kasta tertinggi diantara semua Photoshop user. Selain background mereka yang kebanyakan memang real artist (with old-fashioned tools, macam kuas dan kanvas), mereka juga pengguna Photoshop yang paling mengerti fungsi dari tools- tools nya.. Kebanyakan Photoshop hall of fame diisi dari kasta ini, mulai dari yang terendah yaitu meng-convert photo menjadi looks like painting, sampai the real painter (menggambar dengan tangan atau Illustrator untuk kemudian melakukan coloring dan detailing di Photoshop). Keahlian menggunakan brush jadi tolok ukur kemahiran kasta ini..

I want to master Digital Painting, which is my reason to buy a Wacom Intuos4...

As a digital artist wannabe, I set my own target as follow:
1. Beginner (photo conversion to painting)
- Charcoal drawing
- Conte's drawing
- Pastel drawing
- Watercolor painting
- Oil painting
2. Intermediate (conversion with a theme)
Hasil akhir painting-nya harus bisa "didefinisikan" menurut aliran seni lukis di sekolahan: surrealism, cubism, impressionism, expressionism, realism, naturalism, bahkan abstrak sekalipun.. Latihannya dengan cara mencari inspirasi dari lukisan - lukisan karya maestro, untuk kemudian ngambil foto dengan komposisi yang mirip dengan lukisan tersebut, lalu diubah deh ke digital painting menggunakan sapuan brush yang sesuai dengan arah sapuan si maestro..
3. Expert (100% digital painting)
Maksudnya, Photoshop dan Illustrator bener - bener jadi alat pengganti kuas dan kanvas, bukan sekedar photo conversion ;)

Tapi apa daya... Baru sampai charcoal dan conte's drawing ajah rasanya udah sulit banget.. I can convert a photo into a looks like real hand sketch.. Tapi yaa cuma itu.. I lost in the process of understanding what is necessary to be presented in a drawing.

Untuk gambar muka orang misalnya, karena kemampuan Photoshop untuk mencari edges juga terbatas, jadi kadang - kadang sebuah photo mesti di touch up beberapa kali untuk kemudian baru dicari edges nya.. Tapi tetap saja end result-nya seolah - olah overly done dan kehilangan "nyawa" photo-nya itu sendiri..

Stuck in the middle of my own challenges... :(

I think we have to straight-up misconception that painting requires right part of the brain.. The left is dominant during the process..

July 14, 2009

Boy Meets Boy

Posted by BoewatChat

"Can you spot who's gay, who's straight?"
Is there some place far away, some place where all is clear
Easy to start over with the ones you hold so dear

Or are we left to wander, all alone, eternally?


They say that love is in the air, never is it clear

Was it you that kept me wandering through this life?

How to pull it close and make it stay?


(Lyrics: Always on Your Side, Duetos Sting and Sheryl Crow)

OK, walaupun this reality show "Boy Meets Boy" dari Bravo Network (yang juga nge-release "Queer Eye for the Straight Guy") udah tayang di 2003, I never know this kind of show ever exist :p. Dan ternyata, ini juga the one and only gay-dating-show ever aired by Bravo Network. Alasannya? Susah untuk ndapetin lagi orang seperti James sebagai leading-man nya :p. Memang sulit ya bokk, mencari gay yang ganteng, sukses, shy, tapi tulus mencari cinta dan berniat monogamous :). Dalam kehidupan sehari-harinya, James adalah satu grup beach volley-ball dengan Reichen Lehmkuhl, pemenang The Amazing Race 4. Hmmm...

James Getzlaff, seorang benefit administrator (HR staff yang ngurusin payroll dan reimbursement), adalah gay yang ganteng, smart, tapi juga shy. He said, "Sometimes I think that because of this charm, I always attract wrong person...". Ungkapan yang sama sekali tidak menunjukkan "shy" dalam pengertian umum :) Mungkin yang dia maksud adalah tidak berani bilang I Love You duluan... :p Anyway, karena sifat dan idealisme-nya lah maka James tidak pernah punya pasangan yang dia cita-citakan. Alasannya dia ngikutin show ini, to find a love that could be is in the air, but I just couldn't see it. Or I will live alone and getting old...

James dibantu sahabat pere-nya, Andra, berkutat mencari siapa yang kira - kira dapat dijadikan pasangan James dari 15 kontestan yang dipilih oleh producer. Seperti halnya reality show yang lain, James melakukan eliminasi setelah sebelumnya melakukan one-to-one dating. Yang bikin seru adalah sampai menjelang akhir show (last elimination), James dan Andra, tidak mengetahui kalau diantara para kontestan ada yang straight. Mereka ikut program ini untuk mendapatkan cash prize USD 25,000 jika ternyata dipilih oleh James. Sementara kalau yang dipilih James adalah tepat seorang gay, maka James dan pasangannya akan mendapatkan hadiah romantic trip ke New Zealand dan uang saku USD 25,000. Untuk mencegah tereliminasi-nya semua gay atau semua straight di awal series, maka pada masing-masing tahap eliminasi, producer berhak mengelompokkan kontestan dalam tiga grup yang berisi campuran gay/straight. Tanpa sepengetahuan James dan Andra, tentu saja.

Berikut adalah para kontestan-nya:


Can you spot, who from the above pictures are gay, and who are straight? Bocoran tentu saja ada di-sini, but I'd suggest you to guess first, baru nanti lihat kunci jawabannya :) Skor aku? 3 straight kukira gay, 2 gay kukira straight :p. Jelek memang :), tapi di reality show ini sepertinya orang - orang nya sudah dipilih. Yang straight dipilih yang mempunyai beberapa sisi gay-traits, yang gay dipilih yang mempunyai straight-look.

Lesson learned? Jangan sekali - kali stereotyping deh... Kita bisa salah... Yes, there are some gay-traits: tatapan mata yang khas, cara bicara, cara jalan, jari yang lentik, body language, and many others (name it). Tapi untuk tahu bahwa seseorang adalah gay or straight, the only way to confirm it is by asking or telling. So, what's your score? :)

Last but not least, should also be noted that although James had picked his mate during the show, they never went to New Zealand as part of the prize... They broke up only months after the show. Hal yang menyedihkan tentu saja, karena Bravo network mencoba untuk menunjukkan sisi lain dari gay (gay yang monogamous) to the American viewer, tapi sepertinya tidak berhasil. Wajar juga siyy, karena toh James sepertinya mau nggak mau milih "yang mau" saja, bukan benar - benar pilihan hati-nya. Physically, James lebih tertarik ke dua orang straight di show ini (jadi bukan cuma gw yang salah lihat khan?) :p. Well, not really a sad ending for both of them. James akhirnya dating seorang publicists di Universal Picture, and his mate is also dating another gay.

Reality bites...

July 12, 2009

Testosterone vs. East Side Story

Posted by BoewatChat

"When your boyfriend dumps you, what will you do?"
Berbekal semangat Q! Film Festival.... :)

Gay themed movies/serials akan diterjemahkan sebagai movies or TV serials that pictures gay life (including gay love :) ), whether as a whole or part of it. When only part of it is displayed, it should be attributed to one of the main character and should be part of major story-line. Konsekuensi-nya, "Six Feet Under" dapat dimasukkan sebagai gay-themed, tapi "Torchwood" tidak. Yes, walaupun ada John Barrowman di Torchwood and a lot of kissing and steamy same-sex scene. Kenapa tidak? Karena adegan sex di Torchwood cuma tempelan doank :). "Philadelphia" masuk sebagai gay themed (walaupun tidak ada same-sex bed scene sama sekali, only gay romance) tapi "Caligula" tidak (walaupun banyak penis bertebaran and one or two scenes depicting same-sex).

Dari sisi kualitas, kedua film ini (Testosterone dan East Side Story) jauh dibawah HBO mini-series "Angels in America", yang juga mengangkat tema yang sama, a broken relationship and being dump. Tapi masih worth to watch, terutama karena aktornya ganteng - ganteng :). Di Testosterone ada Antonio Sabato Jr. (ada frontal nudity of him yang woowhh, walaupun cuma 1 detik), di East Side Story ada Rene Alvarado (gak terkenal siy, tapi kemiripannya sama suami BCL itu loh yang bikin betah nonton lama - lama :) ).

Karena foto frontal nudity akan merubah status blog gw jadi restricted, jadi yang ditampilkan disini kemiripan si Rene sama Ashraf aja yaa.. :)


Mirip banget khan? Apalagi kalo lihat film-nya... (Pasti-nya Rene lebih hot, body-nya jauh lebih bagus dibanding Ashraf). Pernah ngebayangin Ashraf lagi having sex? Terpuaskan deh disini :) BTW. Ashraf termasuk jenis yang menimbulkan false alarm niyy buat gw. Sama kaya Choky gitu deh. Maklum... my type ;). Suatu irony juga sebenarnya, because all these men are actually straight (at least, by definition that they haven't had any sexual encounters with other men). When straight men portraying gay, kok selalu tampak indah yaa... Gay yang punya pride, respected, know what he wants. Bukan someone pathetic, surreal, slapstick comedian...

Anyway... Back to the topic.

What will you do if your boyfriend dumps you? Many gays kesulitan menerima ini sebagai sesuatu yang "wajar". Jika ada permulaan, maka seharusnya akan ada akhir bukan? Testosterone mengambil tema ini, ketika Dean ditinggalkan begitu saja oleh Pablo (Antonio Sabato), which he thinks is his soulmate, jadilah dia kelimpungan dan stalking him. Bahkan, ketika dia tahu kalau Pablo adalah seorang sex-addict (sehingga pasti polygamous and promiscuous) dan ibu-nya tidak menyukai hubungan mereka. Dean, gelap mata, bela - belain ke Argentina hanya untuk mencari tahu keberadaannya. Bahkan ada twist di akhir cerita that Dean finally do a violence. Testosterone dibuat denga gaya hyper realism, cenderung surreal, jadi logics nya memang sengaja nggak dibikin "lurus". Sayang penggarapannya nggak gitu bagus, story telling nya nggak sehebat Quentin Tarantino :)

Lain lagi dengan East Side Story. Diego (Rene Alvarado) diputus oleh Pablo (yang closeted), hanya karena Diego mengaku di depan keluarganya that he's gay dan Pablo merasa sangat malu ketahuan (and he feels that his job is jeopardized if people knows him gay). Instead of berlama - lama dalam kesedihan, Diego memutuskan untuk lebih "coming-out" (sebelumnya dia semi-closeted), dengan mencoba "gaul" dimulai dengan attending house warming party tetangganya (a gay couple: Wesley dan Jonathan). Dimulai dengan curhat colongan ke Wesley, yang kemudian membesar dan akhirnya jadilah Diego menjadi orang ketiga dalam hubungan Wesley dan Jonathan yang sudah berlangsung dua tahun. Dan ketika hubungan mereka resmi putus, jadilah happy ending untuk Diego. Dia mendapatkan cinta Wesley, orang yang memang lebih bagus untuk dia dibandingkan Pablo.

Well, if we don't experience it ourselves, we know that both responses are not "ideal", right? :) But life is life :), this kind of things happened, love is blind ;). Sooo... If it is you that is dump by your boyfriend (that you think that he's your soulmate), what'd you do?

Me, possibly I'll cry a while and hurt, struggling to forget him (until years ahead? :p ). But while waiting for the right one to come again, I'll just accept or chase whoever comes across. Even if it's just for fun ;)

June 11, 2009

Define Handsome !!

Posted by BoewatChat

"If attitude is not a concern, how'd you define handsome?"
Gw percaya kalo yang namanya cakep, ganteng, hensem, simpatik... (mention other synonyms), itu sifatnya subjective. "Handsome is on the eye of the beholder...", katanya. Tapi kenyataannya, our society reserved a "looks like" common criterion about it. Contoh gampangnya, siapa yang berani beda untuk bilang Choky Sitohang nggak ganteng?

Agree, tidak semua yang ganteng akan terlihat "menarik" di mata kita. Pastinya (nggak munafik) masih akan bilang, "Yes, he is handsome", tapi nggak berarti semuanya akan memberikan "chemistry" yang cukup untuk membuat kita mendekat and trying to get his attention. Contohnya, Mario Lawalata :). If you're near him, will you try to approach and say hi introducing yourself? Some of us might say yes, but buat gw nggak... :)

Sebuah universitas di Jerman mengadakan penelitian online yang sangat menarik, melakukan sampling dan re-sampling foto orang - orang yang dianggap sexy dan yang tidak, untuk kemudian melakukan online survey. Summary-nya adalah dua foto berikut:

Foto disebelah kiri adalah yang skor sexy-nya paling tinggi.

Setuju banget kan? Gw setuju :) Look at his puppy eyes, arch jaw, smooth skin, full lips, dagu yang lancip... Apalagi yang kurang coba? (Asumsi lainnya, gigi-nya pasti bagus lahh :) )

Dari penelitian tersebut, ternyata kriteria umum untuk wajah yang tampan adalah sebagai berikut:
- Kulit yang mulus, yang menyiratkan "muda dan sehat"
Warna kulit menurut penelitian ini lebih disukai yang tanned (maklum, sample-nya European), tapi general rules-nya adalah kulit terlihat bersih, sehat, terawat.
- Bentuk wajah yang cenderung "memanjang"
Well, perbandingannya seperti oval dan bulat kali yaa... People also tend to like faces yang dahinya lebih luas, upper half of the face is broader compare to the lower.
- Darker eye brows and more lashes
I realyy want to add: longer-curly lashes :)
- Fuller and symmetrical lips
Nggak berarti tipis is the best, tapi lebih ke bentuknya yang "penuh"... Hmmmphh... Dan juga smile-nya mesti terlihat lepas dan jujur
- Higher cheek bones and prominent lower jaw
Bentuknya boleh curvaceous (presenting: softness) ataupun edges (presenting: masculinity)
- Bright eyes
Sorotan-nya mesti punya kharisma khusus..
- More prominent chin
Yang lancip, yang memanjang, rata - rata lebih disukai dibandingkan yang bulat.

The disturbing fact is that the guy in the picture is NOT EXIST in real life. He (in fact, both of them) is only a computer generated image(s), result of morphing 18 male faces.

What is the implication? Artinya, kebanyakan orang sebetulnya "jatuh hati" pada hal - hal yang tidak realistis. Bukan hanya kalangan orang "kebanyakan", bahkan mereka yang berkecimpung di dunia modeling lebih parah lagi. Dari the top three faces yang diramalkan akan laris di dunia fotomodel, tiga - tiganya adalah virtual faces yang tidak ada di dunia nyata.

So, what about you and your dream prince? If you find that he is sooo difficult to find, could it be that basically he's only exist in your dream, never in reality? Or, if you're on a relationship today, have you ever cheated because of simple reason that rumput tetangga is lebih hijau dibanding kepunyaan sendiri? :p If so, insyaf segera bahwa perfection is never exist, atau putuskan saja that "relationship" untuk menjadi fulltime free-man :)

Anyway, kalau masih dibolehkan untuk melanjutkan mimpi, untuk foto dibawah, aku kok lebih cenderung memilih foto yang kiri yaa (walaupun yang kanan adalah the winner). Chemistry-nya ada gitu loh... Wajahnya lebih bulat siyy, tapi dia terlihat lebih "cowok" dan sorotan matanya lebih menyiratkan kecerdasan...

Bagaimana dengan Choky?

Ehmm, dia memang ganteng... Tapi sayang, kulit-nya kalau dilihat dari dekat tidak semulus yang dibayangkan :p. True then, perfection is never exist!

March 29, 2009

The Rise of Smart Gay Bloggers

Posted by BoewatChat

“Tadinya mau nulis well-educated, tapi kepanjangan untuk sebuah judul…”
Toh esensi-nya sama aja kan? Well educated is almost one word with smart. Off-course they’re smart, at least in comparison with the rest of population :). Lihat deh ke friend list gw, disitu ada tiga orang dokter, tiga orang engineer, satu orang educator, a biologist…

Mereka bukan sembarangan gay tentu saja, yang – emmm, walaupun sama-sama mengidap gay-complex seperti gay lain yang less-educated ;) Lonely, possessive, nggak nyaman dengan dirinya sendiri, abused by Cinderella and Sleeping Beauty story. Termasuk gw juga kok… (untuk mencegah yang muda belia itu pada langsung nyolot ke gw :) )

Nggak ding, mereka itu Ande Ande Lumut sejati lahh. Yang disuruh ibunya untuk nemuin putri cantik tapi malah nggak mau:

Duh.. ibu kulo mboten purun (Duh.. Mam, males banget dehh)
Aduh ibu kulo mboten medun (Aduh, aku nggak mau turun ahh)
Nadyan ayu, kulo mboten (re)aksi (Iya cantik, tapi aku kan…)
(mp3: Ande Ande Lumut sung by Waljinah)

Generasi baru gay yang lebih terdidik dan tidak hanya bermain di dunia entertainment (baca: bahan hiburan/tertawaan di panggung) tentu akan membangkitkan kesadaran di public bahwa gay bukan penyakit. It’s just that some people are born with it, nothing’s wrong for becoming a gay, mereka juga bisa berprestasi. Stereotyping that gays are sissy (and bottom) juga pelan – pelan bisa terhapus. Parents bisa lebih accepting kalo ternyata anak kesayangan mereka adalah gay, yang seharusnya siyy mereka udah sadar hal ini sejak anaknya kecil dulu. Toh merekalah saksi anak tersebut lahir dan berkembang menjadi seperti sekarang.

This really is an embracing hope!

Then, how are these smart gay bloggers contribute to the queer world? Joining Gaya Nusantara? Hihihi… Nope! Sorry… Bukannya mereka memandang sebelah mata dengan LSM ini (atau LSM lain yang sejenis), tapi sepertinya beda prinsip ajah. Most of them are semi-closeted. They’re proud to become gay, some are sexually active (although one claim sex-less – siapa hayoo…), whether with one partner or many (yang tetap menolak disebut promiscuous). Tapi mereka masih perceived very "normal"-straight-guy by their small universe.

Someone yang terlalu sibuk bekerja, terlihat setia dan taat menjalankan agamanya. Mereka nggak punya “pacar” bukan karena kuper, tapi karena mereka idealis. Makanya banyak orang tua berusaha untuk menjodohkan mereka dengan anak gadisnya. Tawaran ta’aruf atau yang sejenis-nya udah terlalu sering mereka terima.

So, what are their contribution then? Mereka bersama – sama mencoba untuk buka warung keroyokan di http://ngondek.blogspot.com, yang sekarang sedang tahap konstruksi. Nahh, masalahnya (mulai masuk ke inti postingan ini), gw lately sibuk banget sama kerjaan kantor. Serius… Area of responsibility gw sekarang udah expanding… On the other hand, time’s ticking dan kita nggak boleh kehilangan moment kebersamaan ini. Jangan sampai warm-warm-chicken-shit gitu dehh. Kita sekarang perlu designer/illustrator untuk blog kita itu…

Udah keliling ke blog masing – masing, seperti-nya none of you are having good sense of art :p MIG bagus, tapi dia sepertinya lebih familiar ke web development-nya, sama kaya gw. Lah, yang dibutuhkan sekarang adalah designer atau illustrator.

Nah, waktu blogwalk kemarin malam (katanya sibuk, tapi kok bisa blogwalk? O iya dunk, browsing khan cuma sejauh genggaman jari aja… wekk… :p ), nemu orang ini niyy: Julian Winatakusumah, hunk Bandung, chief illustrator-nya Megindo yang nerbitin Cinemags itu.

Personally, bukan urusan kita kalau dia ituh gay atau bukan. Tapi, seandainya dia gay then its perfect! Kita bisa ask for his help, for free tentu saja :), in exchange that we (the queers) are willing to buy his next comic book, which the story is about queers. That’s a USD 16,000 project yang lagi dikerjain sama anak-anak kreatif Bandung, sponsored by ComicPop (a US company). Win – win solution bukan?

Illustrators network kebetulan bukan my domain, jadi betul – betul no clue banget about who he is. Considering manusiabodoh mencantumkan dia di friend-list nya (walaupun nggak di link balik), so he must know something about him.

Dan berikut hasil profiling gw, hasil semalaman klik link disana dan disini:
Bang Jul (atau Indra panggilannya di rumah), cuma lulusan SMA (SMUN 4 Bandung). Karena keterbatasan biaya, dia nggak bisa nerusin kuliah, jadi memutuskan untuk bekerja sebagai illustrator (bakat alam-nya do’i). Hebat banget, masih muda udah menjadi tulang punggung keluarga. And look how he grooms now? Nggak kelihatan “miskin”-nya deh ;)

Karena bakatnya itu pula, karir-nya menanjak di Megindo, sampai menjadi chief Illustrator. Dia cukup dekat dengan kolega-nya: Bayou (cewe – Illustrator), Egi, Toma, dan tak ketinggalan Ari, si best buddy. Dengan kualitas seperti ini, seorang borondong Bandung (ehh, ini teh lagu bukan yaa? Salah ya, borondong garing?), Tit, yang sekarang lagi kuliah di Fak. Hukum UGM semester dua (kok universitas ini lagee siyy) tergila – gila ke bang Jul. Di blog-nya dia nulis, “aku kagum ke seorang abang yang walaupun cuma lulusan SMA, tapi bisa menjadi tulang punggung keluarga”. Platonis sih, menurut gw (ciri khas brondong) :) Mereka bertiga (karena Ari selalu nempel kemana si Jul pergi), sempat juga jalan bareng di Bandung waktu Tit pulang kampung.

So far, no evidence that Jul gave the same feeling to Tit. Jadi nggak bisa dibuktiin juga whether Jul is gay or not. Juga dari blog-nya Ari (best buddy), nggak ada satupun evidence how close they are, sexually. Cuma satu posting tentang “fuck” mereka berdua, yaitu waktu mereka jatuh dari motornya Jul, dan sebelum jatuh si Jul bilang “Fuck!”. Kecelakaan terparah yang pernah Jul alami.

Tapi gw juga nggak menemukan evidence kalau Jul close to any women. Di photo friendster-nya, ada banyak siyy foto dia sama pere, tapi di foto itu juga selalu ada Ari disana. Pere-nya ganti – ganti, Ari-nya sama :)

Kalau dari slightly more distance friend compare to Ari, Bayou (cew), ada sedikit clue how Jul sexuality is perceived by his PemRed. Waktu Bayou ngelihatin contoh komik gay-nya itu dan bilang, “Ini bisa kita terbitin nggak Bos?” dan boss-nya jawab, “Hah, mana mungkin bisa beredar disini? Nggak akan ada yang beli juga…”. Bayou sedikit marah, nunjuk ke Jul, “Si Jul juga ikutan bikin kok…”. Bosnya bilang, “Si Jul mah emang begitu!...”. Emang begitu? :)

Dan gini nih mimpi erotis nya bang Jul…
"Singkat kata gw udah mojok, yang satu gw suruh bediri ngadep tembok membelakangi gw dan udah gw dah melorotin celananya ampe bugil, I'm an ass-man--something about pantat, perut, n paha yg drive me crazy--so I start from triple 'P' td dr blkg, sementara yg satu lagi menyerang gw dr blkg..."
Gw berusaha keras untuk berimajinasi whether the two partners in his dream are women (yang pasti siyy one of them is werewolf). Celana… Pantat… Nyerang dari belakang… Hmm, ada yang berhasil? :)

Juga berikut adalah self image bang Jul. Hunk, smooth, muscular, but why his pubic hair is exaggerated?
http://www.friendster.com/photos/8295129/47504005/57929

Soo, siapa yang bisa bantu kontak bang Jul? Harus yang udah masuk ke inner circle-nya loh yaa, soalnya rasanya nggak proper minta tolong gratisan ke seorang professional.
Atau Illustrator lainnya deh yang bisa kita minta bantuannya, gratisan :)

Ehh, ini gw udah sinting apa ya… Dari tadi ketawa – ketiwi sendiri ndengerin lagu-nya Waljinah… Di-play bolak – balik, kalau live show mah udah sampe dower kalee dos-q :)

March 9, 2009

Boseeennnnn…

Posted by BoewatChat

“Lah wong emang lagi bosen, mau bilang apa?”
Entah kenapa, lately gw merasa nggak ada gairah lagi writing about some gayness part of me. Efek dari workload yang mulai menanjak lagi? Maybe… Kerjaan gw nuntut everything as rational as possible or we can never get a project, so the emotional part tersisihkan (if I ever had that emotional part). Atau mungkin karena spark itu udah nggak ada? Yang awalnya di-ignite sama blog-nya Fa, and later on I’m connected to other gay bloggers as well…

Are you routinely checking-out other bloggers page as I do? You will see what I meant. Awalnya si Ratu itu yang mulai “ngeluh” dan beresolusi untuk punya pacar lagi di tahun ini. And suddenly every gay's single nulis hal yang senada… SGG, There Will Be Time, Pacaran Serius… Yang udah gak single lagi nulis Busway Goyang (duhh)… Cuma Nei yang tampil sangat elegan dengan A Pathetic Hero. Ohhh, that’s really gay!!! :) (dan tentu saja blogger lain yang menulis tentang keseharian dan ruang profesionalnya. Not literally writing about “gay”, but a look to the world from a gay eyes that makes the whole story is very gay…)

Jangan salah sangka, gw support dengan mutual-monogamous-partnership. But how come this and the sex part becoming the major theme of Qmunnity? Atau, is that the way we’re connected? Any reasons why that’s so contagious?

Rasanya, nulis bukan untuk dipaksa lohh. It should flows from the heart… Cause the readers will feel that stream, gemuruh itu, hempasan kata – kata, the spirit of your mind speaks when you write it down…

Atau? Toh ini kan cuma blog. A journal (I hate to call it diary, sounds girly). Gw nggak pasang iklan disini, so no need for a huge traffic… But nggak mau juga kalo nggak ada yang baca, gimanaaa gitu rasanya :). Sooo, I write what I want. Situ benci? Ya sud...

(Hmmmmhhh...)

In the meantime gw mau nulis resensi film aja ahh, yang bertema gay tentu saja. Dan Brokeback Mountain tidak termasuk satu diantaranya. Do you agree? ;)